Rumput Laut Reka Cipta Budidaya dan Produk

Authors

  • Zakirah Raihani Ya’la UNIVERSITAS TADULAKO
  • Dwi Sulistiawati UNIVERSITAS TADULAKO
  • Nasmia UNIVERSITAS TADULAKO
  • Eka Rosyida UNIVERSITAS TADULAKO
  • Andi Heryanti Rukka UNIVERSITAS TADULAKO
  • Jihan Fahira UNIVERSITAS TADULAKO
  • Riswan UNIVERSITAS TADULAKO
  • Windi Astuti UNIVERSITAS TADULAKO
  • Alfina Damayanti UNIVERSITAS TADULAKO

Keywords:

Reka Cipta Budidaya

Abstract

Rumput laut salah satu komoditas yang melimpah di perairan Indonesia Rumput laut merupakan tanaman makro alga yang hidup dan tumbuh di laut, tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati. Rumput laut dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelas yaitu rumput laut hijau (Chlorophyta), rumput laut merah (Rhodophyta), rumput laut coklat (Phaeophyta), dan rumput laut pirang (Chrysophyta) Produksi rumput laut di Indonesia cukup banyak tetapi belum optimal dimanfaatkan sebagai bahan pangan ataupun bahan pakan.
Indonesia adalah produsen rumput laut terbesar kedua di dunia dan nomor satu untuk jenis tropis, dengan produksi didominasi Kappaphycus alvarezii (82,7%) dan Gracilaria sp (32,1%). Komoditas strategis ini dibudidayakan di perairan Sulawesi, NTT, NTB, dan Jawa Timur, berpotensi sebagai bahan industri makanan, agar-agar, karaginan, kemasan ramah lingkungan, pupuk cair/padat, makanan ikan dan masih banyak produk lainnya.
Provinsi Sulawesi Tengah adalah salah satu penghasil rumput laut di Indonesia, menempati posisi keempat nasional menurut data BPS 2023. Sulawesi Tengah (Sulteng) merupakan salah satu produsen rumput laut terbesar keempat di Indonesia. Pada tahun 2024, total produksi rumput laut di provinsi ini tercatat mencapai 751.843,22 ton. Meskipun potensinya sangat besar, saat ini baru sekitar 7% dari total lahan budidaya yang tersedia yang telah dimanfaatkan secara optimal.

Cover

Published

2026-04-14

Issue

Section

Berikut adalah Buku-Buku yang telah terbit ISBN